Malam ini, tepat hari keempat puluh sejak pemakamanku. Dia yang
sekarang berada di depanku, seorang gadis dengan bola mata kecoklatan
yang bulatnya nyaris sempurna. Ada yang ingin sekali aku tanyakan
padanya “Apakah kamu tahu? Ketika Tuhan masih memberikanku
kesempatan hidup, aku sama sekali tidak pernah mencemaskan kematianku
sendiri, yang selama ini lebih aku cemaskan adalah seberapa banyak
orang-orang yang sudi untuk sekadar mengantarku ke pemakaman dan
menyaksikan tubuhku dicerna liang lahat. Apa kabarmu?”.
Aku tahu, setiap malam dia melakukan hal yang selalu sama seperti
yang sedang aku saksikan sekarang, merebahkan tubuhnya yang
semakin kurus di atas ranjang. Mata bulat coklatnya menatap kosong ke
arah langit-langit kamar, sesekali dirinya mengutuk air matanya sendiri
menjadi mata air. Lagu-lagu bernada minor berlirik sendu dari laptop
miliknya juga masih setia mendayu memenuhi seisi ruangan kamarnya dengan
aroma khas parfum yang sering dia gunakan sehari-hari, harumnya lembut
sekaligus pekat tetapi tidak terlalu menyengat.
Aku yakin, dia tidak pernah tahu kabarku dan dia tidak pernah mau
untuk mencari tahu tentang keadaanku yang sekarang. Semenjak malam
perpisahan kami empat puluh delapan hari yang lalu aku tidak pernah
menghubungi dirinya, begitupun sebaliknya. Andai saja dia tahu, bukan
karena aku sombong atau benar-benar menghapusnya dari ingatanku. Dari
empat puluh delapan hari jeda perpisahan kami sampai hari ini, delapan
hari yang aku lewati hari demi harinya aku gunakan untuk tetap berjuang
mempertahankan nyawaku di ruang ICU. Sedangkan, empat puluh hari sisanya
aku gunakan di alam yang sudah tidak lagi sama.
Entah apa yang membuatku sampai hati untuk berkunjung ke rumahnya
lalu masuk tanpa ijin ke kamarnya malam ini. Yang jelas aku senang
karena ternyata aku tahu jika malam ini dia mengenakan baju pemberianku
tiga bulan yang lalu.
“Apa kamu berniat mengenakan baju pemberianku itu untuk tidur?”, aku mencoba melontarkan pertanyaan yang aku sendiripun sudah tahu jika dia tidak akan pernah bisa mendengarnya.
Tetiba dia mencoba membangunkan tubuh kurusnya yang tadi sempat
tertidur, kemudian dia terduduk sembari mengelap beberapa tetesan air
mata yang mengalir dari kedua matanya yang bulat dengan menggunakan
pergelangan tangan kanannya.
“Aku kangen..”, begitu kalimat yang terucap dari bibir
tipisnya yang bergetar hebat karena menahan tangis. Aku tidak ingin
terlalu cepat merasa besar hati karena merasa dirindukan, mungkin saja
saat ini dia hanya sekadar rindu dengan kekasih barunya yang entah itu
siapa.
“ah.. kalimat tadi pasti bukan untukku”, gumamku dalam hati untuk meyakinkan diriku sendiri.
Empat puluh delapan hari yang lalu
Sekitar pukul sebelas malam. Aku meninggalkan dia di teras rumahnya
sesaat setelah kami memutuskan untuk berpisah, dia menamparku malam itu.
Tamparan yang cukup panas di kulit pipiku, rasanya seperti terkena
percikan bara rokok yang dengan sengaja dilempar hingga hinggap di kulit
wajahku. Aku tidak membalas tamparannya, bagiku lelaki yang memukul
wanita kedudukannya jauh lebih rendah daripada hewan yang paling najis
di muka bumi.
“Maaf.. aku tahu aku salah, aku tidak ingin menyakitimu lebih
dari ini. Kita sudahi saja semuanya, silahkan kamu melanjutkan hidupmu
yang baru dan aku akan memulai hidupku dengan membiasakan diri tanpa
kehadiranmu”, ucapku dengan lantang dan penuh keyakinan di depannya saat itu.
“Baiklah, kalau itu maumu. Aku setuju”, jawabnya singkat.
Tidak lama kemudian aku pamit dan menyalakan mesin motorku, aku
arahkan kepalaku ke belakang untuk melihat wajahnya yang masih menangis.
Ku tatap matanya dalam-dalam dari balik helm yang aku gunakan, sengaja
aku pandangi raut wajahnya hanya untuk memastikan jika dia baik-baik
saja. Siapa yang mengira itu terakhir kalinya dia menatap mataku.
Satu jam setelah perpisahan kami, saat itu otakku terlalu fokus
kepada sakit yang aku terima satu jam sebelumnya, hingga lupa
memperhatikan keadaan jalan. Sampai akhirnya aku dikagetkan oleh cahaya
yang menyilaukan, aku pikir itu pasti lampu truk berukuran cukup besar.
Sial, semua sudah terlambat untuk menghindar. Motor beserta tubuhku
dihantam truk berkecepatan tinggi saat perjalananku untuk kembali pulang
ke rumah, akupun lupa bagaimana kejadian secara detailnya.
Hari demi
hari dalam ketidaksadaranku di ruang ICU, aku menunggu kedatangan
dirinya yang mungkin saja berkenan untuk datang menjengukku. Aku memang
tidak bisa melihat apa yang ada di sekitarku saat itu, tapi paling tidak
aku masih bisa mendengar. Berharap dia datang dan mengatakan sesuatu
yang bisa membangkitkan semangatku untuk terbangun dari koma
berkepanjangan ini.
Delapan hari aku tetap setia menunggunya, dia tidak pernah datang dan Tuhan berkehendak lain atas kesembuhanku.
Di kamarnya..
Dia masih menangis, suara lagu dari laptop miliknya masih mengiringi kesedihannya, seolah menjadi bagian soundtrack dari karnaval kesedihan yang dia ciptakan sendiri.
Dia masih menangis, suara lagu dari laptop miliknya masih mengiringi kesedihannya, seolah menjadi bagian soundtrack dari karnaval kesedihan yang dia ciptakan sendiri.
Sepertinya dia semakin kacau malam ini, kalau saja aku bisa membaca
pikirannya. Aku pasti tidak akan berlama-lama memperhatikannya untuk
mencari tahu apa yang sebenarnya sedang dia rasakan. Jika benar dia
masih merindukanku, pasti dia akan mencari tahu kabar serta keberadaanku
sekarang. Tidak lama saat aku pandangi dirinya, ia mulai membangkitkan
tubuhnya dan beranjak mendekati laptop. Ku saksikan tangannya mulai
mengetik beberapa huruf di sana. Dia mencoba untuk mengakses alamat blog
milikku, sepertinya dia ingin mencari sesuatu di sana. Tapi, aku rasa
dia tidak akan pernah menemukan apa-apa, karena tulisan terakhir yang
aku tulis di sana adalah tulisan yang aku pikir tanpa makna apapun. Aku
sekadar membuat tulisan itu empat puluh delapan hari yang lalu, tepatnya
tiga jam sebelum keberangkatanku menuju rumahnya untuk menyampaikan
salam perpisahan atas hubungan kami.
Sekarang dia justru semakin menangis setelah membuka blog milikku, tangisannya semakin pecah dan aku bingung. “Hal apa yang membuatnya menangis? Apa karena tulisan di blog milikku? ah.. itu hanya tulisan sampah tanpa makna”,
ini kesekian kalinya aku bertanya dalam hati. Ku arahkan penglihatanku
ke layar laptop miliknya, aku dapati dia sedang membaca tulisanku.
Pemakaman Prematur
Kalau aku mati.
Datanglah ke rumahku, tanyakan penghuni lainnya, di mana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tahu rumahku.
Datanglah ke sahabatku, tanyakan di mana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tahu siapa sahabatku.
Datanglah ke teman-temanku, tanyakan di mana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tahu siapa teman-temanku.
Datanglah ke musuhku, tanyakan di mana aku dimakamkan, dia pasti tahu karena dialah yang paling mengharapkan kematianku.
Kalau kau tidak tahu siapa musuhku.
Datanglah ke tempat terakhir kita bertemu.
Di sana, jauh sebelum aku mati.
Aku sudah memakamkan diriku sendiri di depanmu.
Tanpa sepengetahuanmu.
Datanglah ke rumahku, tanyakan penghuni lainnya, di mana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tahu rumahku.
Datanglah ke sahabatku, tanyakan di mana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tahu siapa sahabatku.
Datanglah ke teman-temanku, tanyakan di mana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tahu siapa teman-temanku.
Datanglah ke musuhku, tanyakan di mana aku dimakamkan, dia pasti tahu karena dialah yang paling mengharapkan kematianku.
Kalau kau tidak tahu siapa musuhku.
Datanglah ke tempat terakhir kita bertemu.
Di sana, jauh sebelum aku mati.
Aku sudah memakamkan diriku sendiri di depanmu.
Tanpa sepengetahuanmu.
-Jakarta.
Aneh rasanya, ketika membaca kembali tulisan di blogku tadi seolah
aku sudah mempersiapkan sebuah surat yang akan aku berikan untuknya hari
ini, padahal ketika menulisnya empat puluh delapan hari yang lalu aku
sama sekali tidak pernah berpikir jika kata-kata yang ada di dalamnya
akan mewakili perasaanku saat ini. Karena jika dihubungkan dengan apa
yang sedang terjadi sekarang, tulisanku di blog tadi secara kebetulan
adalah hal yang sebenarnya ingin sekali aku sampaikan kepadanya saat
ini. Aku masih bingung, mungkin saat itu diriku sendiri tanpa sadar
telah menulis surat dengan isi pesan tentang kematian yang datangnya
jauh lebih awal dari kematian itu sendiri.
Setelah selesai membaca tulisan di blogku, dia kembali beranjak ke
tempat tidurnya. Kali ini dia merebahkan tubuhnya dengan gontai lalu
menarik selimut dan memejamkan matanya diikuti aliran air mata yang
terus menetes hingga membasahi baju yang sempat aku berikan kepadanya.
“Aku kangen..”, katanya.
Kali ini aku yakin, perkataan tadi pasti ditujukan untukku, lalu aku
jawab dengan sangat lantang sekali walaupun aku tahu dia tetap tidak
akan bisa mendengarnya.
“Aku juga..” kataku.
Kemudian dia kembali melanjutkan karnaval kesedihan yang
diciptakannya sendiri sebelum tidur dengan diiringi lagu-lagu yang masih
setia melantun dari laptop miliknya yang sengaja dia letakan di atas
meja, tepat di pojok kamar yang berhadapan langsung dengan ranjang yang
menjadi tempat dia tertidur.
Dan aku, seketika pandanganku menjadi gelap, seolah ada sesuatu yang
menarik tubuhku entah kemana dengan sangat kuat. Ah iya.. aku lupa,
sekarang sudah masuk pukul dua belas malam, itu berarti sekarang sudah
lebih dari empat puluh hari sejak pemakamanku. Semoga Tuhan tidak
membawaku menuju neraka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar