Jumat, 06 Januari 2012

Waktu Yang Menjawab

Malam yang indah saat aku bisa menemani kejenuhanmu dimalam itu. Perbincangan satu sama lain menambah kehangatan dikala saat udara malam begitu dingin menusuk tulang. Walau dirimu tak mengetahui apa maksud setiap pembicaraan itu tapi aku tetap bersabar agar kelak nanti dirimu memahami pembicaraan itu.
                
Salah seorang temen memberikan motivasi untuk melangkah lebih lanjut, aku masih bingung dengan hal itu, Aku takut merusak impianmu yang kau bina sejak kecil. Lebih baik aku menunggu dirimu dibanding aku harus cepat-cepat mengambil keputusan. Temanku memberi nasehat tentang keputusan aku menunggunya nanti. Ia menjelaskan “apakah perasaan itu masih ada kelak nanti?’ Tanya temanku sebut saja Rahma. Mendengar pertanyaan tersebut diriku lantas terdiam seakan-akan rasa ini dianggapnya begitu kecil kepada dirimu.
               
Dimalam hari aku coba bertanya kepadaNya. Aku coba mengabaikan pertanyaan itu. Dan berfikir realistis tentang perasaan ini kepada dirinya. Aku mulai pesimistis dengan diriku sendiri apakah diriku bisa menjadi sosok apa yang ada dirimu mau?. Memang aku hanyalah lelaki biasa yang tak punya kelebihan apa-apa berbeda dengan lelaki-lelaki yang sering kau liat difilm kesukaanmu.
                
Hubungan kita saat berbicara menurutku memang beda dengan lainya. Canda,Sedih, dan Galau pernah kita berbagi antar sama lain. Tapi entah itu dengan pendapatmu tentang hubungan ini, mungkin dirimu hanya menggangap itu hal biasa tidak penting bahkan hambar untukmu bila menanyakan pertanyaan itu kepadamu.