Teruntuk perempuan yang pernah tersesat dan kesulitan untuk membedakan antara kanan dan kiri.
Tahukah kamu, aku pernah enggan
membuat suatu ikatan denganmu. Bukan apa-apa itu karena hatiku sudah
rusak, sudah tak utuh dan bahkan sulit untuk mengidentifikasi bentuk dan
isinya. Aku tak ingin memberikan sesuatu yang mungkin tidak layak untuk
kuberikan. Tak etis, menurutku jika kuberikan kau sesuatu yang kurang
berharga.
Tapi, apa yang kau lakukan? kau tetap
memintanya. Sesuatu yang jika salah menggenggam sedikit saja akan jatuh
berhamburan. Kau menawarkan diri untuk menerima itu, tanpa kecuali. Dan
bahkan berjanji untuk memperbaikinya. Apa aku semudah itu percaya?
Tidak. Aku saja tak yakin bisa kembali utuh dan berfungsi dengan
selayaknya.
Dengan sabar kau membujukku untuk
mempercayakan padamu, untuk kau perbaiki. Luluh sudah aku dengan tatapan
polosmu. Kuberikan dalam kantung kertas berisi serpihan yang mungkin
tak lengkap. Kutitipkan sesuatu milikku yang pernah dengan bangga
kupamerkan yang kini dengan keadaan, yah… seperti itulah adanya.
Anehnya, kau menerima nya dengan mata berbinar. Dan dengan yakin kau
mengatakan “pasti akan kuperbaiki”.
Sesekali aku mengecek pekerjaanmu,
apakah ada kesulitan dengan itu. Dengan mantap kau tersenyum seperti
sedang mengusahakan dengan sebaik mungkin. Sedikit demi sedikit terlihat
semakin baik. Aku tersenyum, kau memegang janjimu.
Aku berjanji, saat hati itu sudah
selesai dengan bentuknya yang baru, akan kuberikan untukmu selamanya.
Hasil pekerjaanmu, atas namaku, dan dengan rencana Tuhan yang kita tahu
selalu dengan alasan tertentu.
Lantai 2 kamar
02 juli 2012