Minggu, 02 September 2012

Surat Kematian Dari Masa Lalu

Malam ini, tepat hari keempat puluh sejak pemakamanku. Dia yang sekarang berada di depanku, seorang gadis dengan bola mata kecoklatan yang bulatnya nyaris sempurna. Ada yang ingin sekali aku tanyakan padanya “Apakah kamu tahu? Ketika Tuhan masih memberikanku kesempatan hidup, aku sama sekali tidak pernah mencemaskan kematianku sendiri, yang selama ini lebih aku cemaskan adalah seberapa banyak orang-orang yang sudi untuk sekadar mengantarku ke pemakaman dan menyaksikan tubuhku dicerna liang lahat. Apa kabarmu?”.

Aku tahu, setiap malam dia melakukan hal yang selalu sama seperti yang sedang aku saksikan sekarang, merebahkan tubuhnya yang semakin kurus di atas ranjang. Mata bulat coklatnya menatap kosong ke arah langit-langit kamar, sesekali dirinya mengutuk air matanya sendiri menjadi mata air. Lagu-lagu bernada minor berlirik sendu dari laptop miliknya juga masih setia mendayu memenuhi seisi ruangan kamarnya dengan aroma khas parfum yang sering dia gunakan sehari-hari, harumnya lembut sekaligus pekat tetapi tidak terlalu menyengat.

Aku yakin, dia tidak pernah tahu kabarku dan dia tidak pernah mau untuk mencari tahu tentang keadaanku yang sekarang. Semenjak malam perpisahan kami empat puluh delapan hari yang lalu aku tidak pernah menghubungi dirinya, begitupun sebaliknya. Andai saja dia tahu, bukan karena aku sombong atau benar-benar menghapusnya dari ingatanku. Dari empat puluh delapan hari jeda perpisahan kami sampai hari ini, delapan hari yang aku lewati hari demi harinya aku gunakan untuk tetap berjuang mempertahankan nyawaku di ruang ICU. Sedangkan, empat puluh hari sisanya aku gunakan di alam yang sudah tidak lagi sama.

Entah apa yang membuatku sampai hati untuk berkunjung ke rumahnya lalu masuk tanpa ijin ke kamarnya malam ini. Yang jelas aku senang karena ternyata aku tahu jika malam ini dia mengenakan baju pemberianku tiga bulan yang lalu.

“Apa kamu berniat mengenakan baju pemberianku itu untuk tidur?”, aku mencoba melontarkan pertanyaan yang aku sendiripun sudah tahu jika dia tidak akan pernah bisa mendengarnya.

Tetiba dia mencoba membangunkan tubuh kurusnya yang tadi sempat tertidur, kemudian dia terduduk sembari mengelap beberapa tetesan air mata yang mengalir dari kedua matanya yang bulat dengan menggunakan pergelangan tangan kanannya.

“Aku kangen..”, begitu kalimat yang terucap dari bibir tipisnya yang bergetar hebat karena menahan tangis. Aku tidak ingin terlalu cepat merasa besar hati karena merasa dirindukan, mungkin saja saat ini dia hanya sekadar rindu dengan kekasih barunya yang entah itu siapa.

“ah.. kalimat tadi pasti bukan untukku”, gumamku dalam hati untuk meyakinkan diriku sendiri.

Empat puluh delapan hari yang lalu

Sekitar pukul sebelas malam. Aku meninggalkan dia di teras rumahnya sesaat setelah kami memutuskan untuk berpisah, dia menamparku malam itu. Tamparan yang cukup panas di kulit pipiku, rasanya seperti terkena percikan bara rokok yang dengan sengaja dilempar hingga hinggap di kulit wajahku. Aku tidak membalas tamparannya, bagiku lelaki yang memukul wanita kedudukannya jauh lebih rendah daripada hewan yang paling najis di muka bumi.

“Maaf.. aku tahu aku salah, aku tidak ingin menyakitimu lebih dari ini. Kita sudahi saja semuanya, silahkan kamu melanjutkan hidupmu yang baru dan aku akan memulai hidupku dengan membiasakan diri tanpa kehadiranmu”, ucapku dengan lantang dan penuh keyakinan di depannya saat itu.

“Baiklah, kalau itu maumu. Aku setuju”, jawabnya singkat.

Tidak lama kemudian aku pamit dan menyalakan mesin motorku, aku arahkan kepalaku ke belakang untuk melihat wajahnya yang masih menangis. Ku tatap matanya dalam-dalam dari balik helm yang aku gunakan, sengaja aku pandangi raut wajahnya hanya untuk memastikan jika dia baik-baik saja. Siapa yang mengira itu terakhir kalinya dia menatap mataku.

Satu jam setelah perpisahan kami, saat itu otakku terlalu fokus kepada sakit yang aku terima satu jam sebelumnya, hingga lupa memperhatikan keadaan jalan.  Sampai akhirnya aku dikagetkan oleh cahaya yang menyilaukan, aku pikir itu pasti lampu truk berukuran cukup besar. Sial, semua sudah terlambat untuk menghindar. Motor beserta tubuhku dihantam truk berkecepatan tinggi saat perjalananku untuk kembali pulang ke rumah, akupun lupa bagaimana kejadian secara detailnya. 

Hari demi hari dalam ketidaksadaranku di ruang ICU, aku menunggu kedatangan dirinya yang mungkin saja berkenan untuk datang menjengukku. Aku memang tidak bisa melihat apa yang ada di sekitarku saat itu, tapi paling tidak aku masih bisa mendengar. Berharap dia datang dan mengatakan sesuatu yang bisa membangkitkan semangatku untuk terbangun dari  koma berkepanjangan ini.

Delapan hari aku tetap setia menunggunya, dia tidak pernah datang dan Tuhan berkehendak lain atas kesembuhanku.

Di kamarnya..
Dia masih menangis, suara lagu dari laptop miliknya masih mengiringi kesedihannya, seolah menjadi bagian soundtrack dari karnaval kesedihan yang dia ciptakan sendiri. 

Sepertinya dia semakin kacau malam ini, kalau saja aku bisa membaca pikirannya. Aku pasti tidak akan berlama-lama memperhatikannya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang dia rasakan. Jika benar dia masih merindukanku, pasti dia akan mencari tahu kabar serta keberadaanku sekarang. Tidak lama saat aku pandangi dirinya, ia mulai membangkitkan tubuhnya dan beranjak mendekati laptop. Ku saksikan tangannya mulai mengetik beberapa huruf di sana. Dia mencoba untuk mengakses alamat blog milikku, sepertinya dia ingin mencari sesuatu di sana. Tapi, aku rasa dia tidak akan pernah menemukan apa-apa, karena tulisan terakhir yang aku tulis di sana adalah tulisan yang aku pikir tanpa makna apapun. Aku sekadar membuat tulisan itu empat puluh delapan hari yang lalu, tepatnya tiga jam sebelum keberangkatanku menuju rumahnya untuk menyampaikan salam perpisahan atas hubungan kami.

Sekarang dia justru semakin menangis setelah membuka blog milikku, tangisannya semakin pecah dan aku bingung. “Hal apa yang membuatnya menangis? Apa karena tulisan di blog milikku? ah.. itu hanya tulisan sampah tanpa makna”, ini kesekian kalinya aku bertanya dalam hati. Ku arahkan penglihatanku ke layar laptop miliknya, aku dapati dia sedang membaca tulisanku.

Pemakaman Prematur
Kalau aku mati.
Datanglah ke rumahku, tanyakan penghuni lainnya, di mana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tahu rumahku.
Datanglah ke sahabatku, tanyakan di mana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tahu siapa sahabatku.
Datanglah ke teman-temanku, tanyakan di mana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tahu siapa teman-temanku.
Datanglah ke musuhku, tanyakan di mana aku dimakamkan, dia pasti tahu karena dialah yang paling mengharapkan kematianku.
Kalau kau tidak tahu siapa musuhku.
Datanglah ke tempat terakhir kita bertemu.
Di sana, jauh sebelum aku mati.
Aku sudah memakamkan diriku sendiri di depanmu.
Tanpa sepengetahuanmu.
-Jakarta.

Aneh rasanya, ketika membaca kembali tulisan di blogku tadi seolah aku sudah mempersiapkan sebuah surat yang akan aku berikan untuknya hari ini, padahal ketika menulisnya empat puluh delapan hari yang lalu aku sama sekali tidak pernah berpikir jika kata-kata yang ada di dalamnya akan mewakili perasaanku saat ini. Karena jika dihubungkan dengan apa yang sedang terjadi sekarang, tulisanku di blog tadi secara kebetulan adalah hal yang sebenarnya ingin sekali aku sampaikan kepadanya saat ini. Aku masih bingung, mungkin saat itu diriku sendiri tanpa sadar telah menulis surat dengan isi pesan tentang kematian yang datangnya jauh lebih awal dari kematian itu sendiri.

Setelah selesai membaca tulisan di blogku, dia kembali beranjak ke tempat tidurnya. Kali ini dia merebahkan tubuhnya dengan gontai lalu menarik selimut dan memejamkan matanya diikuti aliran air mata yang terus menetes hingga membasahi baju yang sempat aku berikan kepadanya.

“Aku kangen..”, katanya.

Kali ini aku yakin, perkataan tadi pasti ditujukan untukku, lalu aku jawab dengan sangat lantang sekali walaupun aku tahu dia tetap tidak akan bisa mendengarnya.

“Aku juga..” kataku.

Kemudian dia kembali melanjutkan karnaval kesedihan yang diciptakannya sendiri sebelum tidur dengan diiringi lagu-lagu yang masih setia melantun dari laptop miliknya yang sengaja dia letakan di atas meja, tepat di pojok kamar yang berhadapan langsung dengan ranjang yang menjadi tempat dia tertidur.

Dan aku, seketika pandanganku menjadi gelap, seolah ada sesuatu yang menarik tubuhku entah kemana dengan sangat kuat.  Ah iya.. aku lupa, sekarang sudah masuk pukul dua belas malam, itu berarti sekarang sudah lebih dari empat puluh hari sejak pemakamanku. Semoga Tuhan tidak membawaku menuju neraka.

Senin, 02 Juli 2012

Hasil Pekerjaanmu, Atas Namaku...

Teruntuk perempuan yang pernah tersesat dan kesulitan untuk membedakan antara kanan dan kiri.

Tahukah kamu, aku pernah enggan membuat suatu ikatan denganmu. Bukan apa-apa itu karena hatiku sudah rusak, sudah tak utuh dan bahkan sulit untuk mengidentifikasi bentuk dan isinya. Aku tak ingin memberikan sesuatu yang mungkin tidak layak untuk kuberikan. Tak etis, menurutku jika kuberikan kau sesuatu yang kurang berharga.

Tapi, apa yang kau lakukan? kau tetap memintanya. Sesuatu yang jika salah menggenggam sedikit saja akan jatuh berhamburan. Kau menawarkan diri untuk menerima itu, tanpa kecuali. Dan bahkan berjanji untuk memperbaikinya. Apa aku semudah itu percaya? Tidak. Aku saja tak yakin bisa kembali utuh dan berfungsi dengan selayaknya. 

Dengan sabar kau membujukku untuk mempercayakan padamu, untuk kau perbaiki. Luluh sudah aku dengan tatapan polosmu. Kuberikan dalam kantung kertas berisi serpihan yang mungkin tak lengkap. Kutitipkan sesuatu milikku yang pernah dengan bangga kupamerkan yang kini dengan keadaan, yah… seperti itulah adanya. Anehnya, kau menerima nya dengan mata berbinar. Dan dengan yakin kau mengatakan “pasti akan kuperbaiki”.

Sesekali aku mengecek pekerjaanmu, apakah ada kesulitan dengan itu. Dengan mantap kau tersenyum seperti sedang mengusahakan dengan sebaik mungkin. Sedikit demi sedikit terlihat semakin baik. Aku tersenyum, kau memegang janjimu. 

Aku berjanji, saat hati itu sudah selesai dengan bentuknya yang baru, akan kuberikan untukmu selamanya. Hasil pekerjaanmu, atas namaku, dan dengan rencana Tuhan yang kita tahu selalu dengan alasan tertentu.

Lantai 2 kamar
02 juli 2012

Minggu, 01 Juli 2012

Halaman Yang Terabaikan

Lama juga tak ku kunjungi halaman ini. Sedikit bersin aku ketika membuka jalan masuknya, huff… Debu kata yang menumpuk, sampah alinea berserakan. Tuan laba-laba pun sudah menganggap ini sebagai daerah jajahannya, sarangnya cukup memenuhi sudut-sudut ruangan. Suatu tempat yang dulu begitu sering kukunjungi, kini mulai terabaikan karena kesibukanku. Bukan sibuk juga sebenarnya, tapi aku kurang meluangkan waktu saja bermain kesini. Tempat dimana aku melarikan diri dari segala hal, saat sedih, senang, maupun biasa saja. Sering ku bercerita di sini, menulis apa saja, bahkan hal bodoh pun ku tulis. Miris juga melihat tempat ini jadi terbengkalai begini. Oke, saatnya bersih-bersih. Halaman ini harus kembali seperti dulu, agar teman yang berkunjung pun dapat ikut menikmati.

Jumat, 06 Januari 2012

Waktu Yang Menjawab

Malam yang indah saat aku bisa menemani kejenuhanmu dimalam itu. Perbincangan satu sama lain menambah kehangatan dikala saat udara malam begitu dingin menusuk tulang. Walau dirimu tak mengetahui apa maksud setiap pembicaraan itu tapi aku tetap bersabar agar kelak nanti dirimu memahami pembicaraan itu.
                
Salah seorang temen memberikan motivasi untuk melangkah lebih lanjut, aku masih bingung dengan hal itu, Aku takut merusak impianmu yang kau bina sejak kecil. Lebih baik aku menunggu dirimu dibanding aku harus cepat-cepat mengambil keputusan. Temanku memberi nasehat tentang keputusan aku menunggunya nanti. Ia menjelaskan “apakah perasaan itu masih ada kelak nanti?’ Tanya temanku sebut saja Rahma. Mendengar pertanyaan tersebut diriku lantas terdiam seakan-akan rasa ini dianggapnya begitu kecil kepada dirimu.
               
Dimalam hari aku coba bertanya kepadaNya. Aku coba mengabaikan pertanyaan itu. Dan berfikir realistis tentang perasaan ini kepada dirinya. Aku mulai pesimistis dengan diriku sendiri apakah diriku bisa menjadi sosok apa yang ada dirimu mau?. Memang aku hanyalah lelaki biasa yang tak punya kelebihan apa-apa berbeda dengan lelaki-lelaki yang sering kau liat difilm kesukaanmu.
                
Hubungan kita saat berbicara menurutku memang beda dengan lainya. Canda,Sedih, dan Galau pernah kita berbagi antar sama lain. Tapi entah itu dengan pendapatmu tentang hubungan ini, mungkin dirimu hanya menggangap itu hal biasa tidak penting bahkan hambar untukmu bila menanyakan pertanyaan itu kepadamu.

Sabtu, 10 Desember 2011

Aku Berhenti ?

sad
Ex : Rahman Abdullah


Mengapa aku berhenti ? itu karena kamu. Sebenarnya aku masih ingin seperti dulu, sayang dirimu berubah. Entah mengapa beberapa minggu ini dirimu mulai menyukai orang lain, tapi entahlah itu bukan urusanku toh aku juga bukan siapa- siapa untukmu.
 Canda tawa dan sedih pernah aku rasakan dari dirimu. Kepribadianmu yang mandiri membuat kagum diriku.Dirimu dimata orang lain hanyalah seperti daun hijau tumbuhan lain yang sama tetapi untuk ku kamu adalah bulu cantik burung merak yang megah saat membuka lebar.
Sering terlintas dipikiran ku bayang-bayang dirimu. Apakah kamu juga merasa seperti ini ? sama seperti diriku. Meski dirimu sering mengangap diriku sebelah mata itu tak masalah untuk ku. Membuat hari-hari mu caria adalah suatu anugrah yang hebat yang aku dapatkan darimu.
Satu yang sampai saat ini belum terlupakan dari dirimu adalah kata-kata untuk diriku saat pagi hari. Kata-kata itu terekam dalam pikiranku dan entah sampai kapan kata-kata itu bisa hilang dari pikiranku.

Ga Jelas -___-




Entah apa yang ada dipikiran lo semua. Kegiatan lo seusai pulang sekolah menurut gua ga ada artinya. Kalo buat lo yang ada pasangan pasti penting, karena salah satu pasangan lo ada dalam kelompok itu. Lo semua tunduk dan patuh dengan seseorang yang kalian anggap pemimpin kalian.
Padahal pemimpin lo orangnya egois dan bisa dibilang cari muka, tapi kenapa lo semua masih bisa takut sama pemimpin lo ? apa karena pemimpin lo pintar ?. Kepintaran gampang dicari woy ! asal lo niat tapi kebersamaan sama orang2 sekeliling lo jauh lebih sulit asal lo tau . Yang nulis ini juga benga, udah kaya gitu masih aja gabung sama kelompok2 ga jelas.
Sebenarnya gua juga ga mau ikut2 kaya gitu, karena ada satu temen deket aja yang minta temenin mangkanya gua ikut aja karena ga enak. Kalo udah sampe dirumah salah satu anggota kelompok ga jelas, udah deh gua kaya kambing conge. Serasa ga ada hadirnya gua disana, paling disana gua Cuma denger lagu, duduk dikursi udah itu doang ga  ada yang lain.
Gua dianggep sama yang lain asal pergi sama pulang aja selebihnya = 0. Sementara temen gua sibuk dengan pasanganya yang ada dikelompok ga jelas itu. Terpaksa gua harus tetep seneng walaupun rasanya sumpek, enek, ga jelas banget, pengen teriak sekeras2nya dikuping lo semua dan bilang “ LO NGAPAIN SIH KAYA GINI GA JELAS BANGET SUMPAH ASLI ! “



Jumat, 02 Desember 2011

Bruno Mars - Lighters




Bad Meets Evil – Lighters Lyrics
(ft. Bruno Mars)
[Chorus]
This one’s for you and me
Living out our dreams
We’re all right where we should be
Lift my arms out wide
I open my eyes
And now all I wanna see
Is a sky full of lighters
A sky full of lighters
[Eminem]
By the time you hear this
I will have already spiraled up
I would never do nothin to let you cowards fuck my world up
If I was you I would duck or get struck like lightning
Fighters keep fighting
Put your lighters up
Point em’ skyward UH!
Had a dream I was king
I woke up, still king
This rap game’s nipples is mine for the milking
Till nobody else even fuckin feels me
Till it kills me
I swear to god I’ll be the fucking illest in the music
There is or there ever will be
Disagree? Feel free, but from now on I’m refusing to ever give up,
Only thing I ever gave up is using
No more excuses
Excuse me if my head’s too big for this building
And pardon me if I’m a cocky prick
But you cocks are slick
Poppin shit on how you flipped your life around
Crock of shit
Who you dicks tryna’ kid?
Flip dick you did opposite
You stayed the same
Cause cock backwards is still cock you prick
I love it when I tell ‘em shove it
Cause it wasn’t that
Long ago
When Marshall sat
Flustered, lack lustered
Cause he couldn’t cut
Mustered, muster up
Nothin
Brain fuzzy
Cause he’s buzzing
Woke up from that buzz and now you wonder
Why he does it how he does
Wasn’t cause he had
Buzzards circlin’ round his head
Waitin for him to drop dead, was it?
Or was it cause some bitches wrote him off
Little hussy ass fusses
Fuck it
Guess it doesn’t matter now does it?
What difference it make
Whats it take?
To get it through you thick skulls that this ain’t
Some bullshit
People don’t usually come back this way
From a place that was as dark as I was
And just to get to this place
Some of these words be like a switchblades to a hater’s rib cage
And let it be known that from this day forward
I wanna just say thanks
Cause your hate is what gave me the strength
So let them Bic’s raise cause I came at 5’9″
But I feel like I’m 6’8″
[Chorus]
This one’s for you and me
Living out our dreams
We’re all right where we should be
Lift my arms out wide
I open my eyes
And now all I wanna see
Is a sky full of lighters
A sky full of lighters
[Royce Da 5’9"]
By the time you hear this I probably already be outty
I advance like going from toting iron to goin
And buying 4 or 5 of the homies, to iron man outie
My daddy told me, slow down boy you’re going to blow it
And I ain’t gotta stop to be the minute to tell shady I love the same way that he did Dr. Dre on the chronic
Tell ‘em how real he is
Or how high I am
Or how I would kill him, for him to know it
I cry when he tears
My daddy gotta bad back
So its only right that I write
Till he can march right into that post office and tell’em to hang it up
Now his careers Lebron’s jersey in twenty years
I stop when I’m at the very top
You shitted on me on your way up
It’s bout to be a scary drop
Cause what goes up must come down
You goin down on somethin you don’t wanna see
Like a hairy box
Every hour, happy hour now
Life is wacky now
Used to have to eat the cat to get the pussy
Now I’m just the cat’s meow
Owwww
I’m classic now
Always down for the catch-weight like Pacquiao
Y’all are doomed
I remember when T-Pain ain’t wanna work with me
My car starts itself, parks itself and auto-tunes
Cause now I’m in the Aston
I went from having my city locked up
To getting treated like Kwarme Kilpatrick
And now I’m fantastic compared to a weed high
And yall’ niggas just gossipin’ like bitches
On a radio and TV, see me, we fly
Y’all buggin out like Wendy Williams starin’ at a bee hive
And how real is that?
I remember signing my first deal
Now I’m the second best
I can deal with that
Now Bruno can show his ass
Without the MTV awards gag
[Bridge]
You and I
Know what it’s like
To be kicked down
Forced to fight
But tonight
We’re alright
So hold up your lights
Let it shine
Cause..
[Chorus]
This one’s for you and me
Living out our dreams
We’re all right where we should be
Lift my arms out wide
I open my eyes
And now all I wanna see
Is a sky full of lighters
A sky full of lighters